Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Komputer untuk Mereduksi Computer Anxiety Mahasiswa Teknik Industri

  • Syukriyanto Latif Universitas Satya Wiyata Mandala
  • Deby Siska Bogar Universitas Satya Wiyata Mandala

Abstract

Perkembangan Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan tinggi, di mana perguruan tinggi dituntut untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan digital, berpikir kritis, dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Namun, di wilayah Papua Tengah, kondisi geografis dan keterbatasan sarana pembelajaran menyebabkan sebagian besar mahasiswa, khususnya yang berasal dari daerah pegunungan dan pedalaman, memiliki akses yang minim terhadap pembelajaran komputer di sekolah menengah. Keterbatasan guru, fasilitas laboratorium, jaringan internet, serta faktor keamanan turut memperburuk situasi tersebut. Akibatnya, banyak mahasiswa mengalami computer anxiety, yaitu rasa cemas, takut, atau tidak percaya diri ketika berinteraksi dengan teknologi komputer. Fenomena ini menjadi hambatan serius dalam proses pembelajaran berbasis digital dan dalam pencapaian kompetensi teknologi di era Revolusi Industri 4.0.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengembangkan model pembelajaran Ilmu Komputer berbasis wisdom of local culture dengan menggunakan media video pembelajaran berbahasa daerah Papua Tengah. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih akrab, komunikatif, dan sesuai dengan konteks sosial-budaya mahasiswa, sehingga diharapkan dapat menurunkan tingkat computer anxiety. Penelitian menggunakan metode quasi-experimental design dengan model one group pre-test and post-test, yang melibatkan 50 mahasiswa semester tiga Program Studi Teknik Industri Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner Computer Anxiety Rating Scale (CARS), lembar observasi, dan wawancara terarah. Analisis data kuantitatif menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan SPSS versi 28 untuk mengukur perbedaan tingkat computer anxiety sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat computer anxiety dari rata-rata skor 3,84 menjadi 2,70 (p < 0,05). Selain itu, 88% mahasiswa menyatakan lebih nyaman belajar menggunakan video berbahasa daerah karena membantu mereka memahami istilah teknis komputer dan membuat suasana kelas terasa lebih santai. Observasi kelas juga memperlihatkan peningkatan keaktifan, kerja sama, dan kepercayaan diri mahasiswa dalam praktik komputer. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan bahasa dan budaya lokal dapat menjadi jembatan emosional dan kognitif dalam pembelajaran teknologi, sejalan dengan teori Situated Learning oleh Lave dan Wenger yang menekankan pentingnya konteks sosial budaya dalam proses belajar. Secara konseptual, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori culturally responsive learning dalam konteks pendidikan teknologi di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Secara praktis, model pembelajaran berbasis local wisdom ini dapat diterapkan pada mata kuliah lain yang berhubungan dengan teknologi dan dikembangkan di wilayah lain di Papua. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dan bahasa daerah dalam pembelajaran dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan literasi digital sekaligus menurunkan computer anxiety mahasiswa di daerah yang memiliki keterbatasan akses teknologi.

References

[1] et al. Mejías-Acosta, A., ““Assessment of digital competencies in higher education students: development and validation of a,” Front. Educ. scale,”, vol. 9, 20, 2024.
[2] I. C. Raveica et al., “The Impact of Digitalization on Industrial Engineering Students’ Training from the Perspective of Their Insertion in the Labor Market in a Sustainable Economy: A Students’ Opinions Survey,” Sustain., vol. 16, no. 17, 2024, doi: 10.3390/su16177499.
[3] and Y. Asmayawati, Yufiarti, “‘Pedagogical innovation and curricular adaptation in enhancing digital literacy: A local wisdom approach for sustainable development in Indonesia context,’” J. Open Innov., vol. 10, n, 2024.
[4] B. Lauren, “Strengthening Digital Learning across Indonesia: A Study Brief,” J. Educ. Learn., vol. 4, no. 2, pp. 44–58, 2021, [Online]. Available: https://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/COVID-19-and-learning-inequities-indonesia-four-ways-bridge-gap
[5] A. A. Hayat et al., “A Cross-Sectional Study on the Role of Computer Anxiety in Students’ Online Learning,” J. Adv. Med. Educ. Prof., vol. 12, no. 1, pp. 51–56, 2024, doi: 10.30476/jamp.2023.99057.1824.
[6] S. C. Stephen J. Lepore, Maria A. Rincon, Joanne S. Buzaglo, Mitch Golant, Morton A. Lieberman, Sarah Bauerle Bass, “Digital literacy linked to engagement and psychological benefits among breast cancer survivors in Internet-based peer support groups,” Psycho-Oncology, vol. 28, p, 2019.
[7] A. A. Wutun, B. Arafah, and A. H. Yassi, “Integrating Local Culture in English Language Teaching To,” vol. 6, no. 4, pp. 48–56, 2018.
[8] M. W. Yangambi, “Culturally Relevant Teaching in the Digital Age: Student-Centered and Personalized Learning in Developing Countries,” Creat. Educ., vol. 16, no. 01, pp. 71–89, 2025, doi: 10.4236/ce.2025.161005.
[9] A. Asnawi, A. K. Kenedi, and R. Fransyaigu, “The Influence of Digital Classroom Model Using Local Wisdom Towards Elementary School Student’s Learning Motivation And Learning Independence In Indonesia,” 2023, doi: 10.4108/eai.26-11-2022.2339527.
[10] Y.-C. Chen and J. N. Chung, “A direct numerical simulation of transition phenomena in a mixed convection channel flow,” Comput. Fluids, vol. 32(6):795-, 2023.
[11] C. N. P. John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. 2016.
[12] M. Zahrudin Afnan, S. Nurreza Setyawan, M. Hilmi Ihsanul Iman, G. Ayu Dea Kirana Anjani, and R. Pratiwi Puspitawati, “Pembelajaran Sains Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Pembelajaran yang Terintegrasi SDGs: Scientific Literature Review,” Pros. Semin. Nas. Biol. IP2B VII, no. Ip2b Viii, pp. 67–83, 2024.
[13] H. Munawaroh et al., “Pembelajaran Bahasa Daerah melalui Multimedia Interaktif pada Anak Usia Dini,” J. Obs. J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 6, no. 5, pp. 4057–4066, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i5.1600.
[14] L. P. A. Nugroho, “PENERAPAN PEMBELAJARAN KOLABORATIF SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN DARING,” 2020, [Online]. Available: https://bbpmpjateng.kemendikdasmen.go.id/penerapan-pembelajaran-kolaboratif-sebagai-model-pembelajaran-daring/#:~:text=Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu model,dasar manusia adalah makhluk sosial
[15] Wahyuddin, Ernawati, A. A. Wahyudi, H. Hadaming, and Maharida, Teori Belajar dan Aplikasinya: Panduan Pembelajaran yang Efektif dan Inovatif. 2024.
[16] N. Suprapto, B. K. Prahani, and T. H. Cheng, “Indonesian curriculum reform in policy and local wisdom: Perspectives from science education,” J. Pendidik. IPA Indones., vol. 10, no. 1, pp. 69–80, 2021, doi: 10.15294/jpii.v10i1.28438.
[17] Magid Igbaria and Saroj Parasuraman, “A Path Analytic Study of Individual Characteristics, Computer Anxiety and Attitudes toward Microcomputers,” vol. Volume 15,, doi: https://doi.org/10.1177/014920638901500302.
[18] L. Grace Hui Chin, “Pedagogies Proving Krashen’s Theory of Affective Filter,” Hwa Kang J. English Lang. Lit., vol. 14, no. 14, pp. 113–131, 2008.
Published
2025-12-15
How to Cite
LATIF, Syukriyanto; BOGAR, Deby Siska. Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Komputer untuk Mereduksi Computer Anxiety Mahasiswa Teknik Industri. INFORMATION SYSTEM FOR EDUCATORS AND PROFESSIONALS : Journal of Information System, [S.l.], v. 10, n. 2, p. 139-148, dec. 2025. ISSN 2548-3587. Available at: <https://ejournal-binainsani.ac.id/index.php/ISBI/article/view/3756>. Date accessed: 15 july 2026. doi: https://doi.org/10.51211/isbi.v10i2.3756.